25 Ulama Perempuan Ikuti Pelatihan Kepemimpinan KUPI di Jakarta, Pelajari Sejarah hingga Arah Gerakan

LITERAT.ID — Pelatihan Kepemimpinan Ulama Perempuan Seri Pemaju resmi dimulai pada Jumat (30/10/2026) di Hotel Millennium Sirih, Jakarta Pusat. Kegiatan hari pertama mempertemukan 25 peserta dari berbagai ruang khidmah dan daerah di Indonesia untuk belajar sejarah, membangun jejaring, serta memperkuat arah gerakan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI).
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan oleh Siti Robikah sebagai pembawa acara. Suasana khidmat dibangun melalui tawasul versi KUPI yang dipimpin Kiai Mufid Arsyad, menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan dirigen Ibu Nyai Ana Yunita, pembacaan Ikrar Bangsri oleh Ibu Nyai Syarifah Ainun Jamilah, serta Shalawat Musawwa dipimpin Ibu Nyai Tho'ah, Ibu Nyai Farida Ulvi, dan Ibu Nyai Muhim. Seluruh peserta terlibat aktif dalam menjalankan rangkaian pembukaan tersebut.
Dalam sambutan, perwakilan panitia, Kiai Marzuki Rois, menyampaikan selamat kepada 25 peserta yang berhasil lolos seleksi. Ia mengungkapkan bahwa jumlah pendaftar jauh melampaui perkiraan panitia. Kualitas para calon peserta yang sama-sama baik bahkan membuat proses seleksi menjadi tidak mudah.
"Kesempatan belajar tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai pengalaman personal, tetapi menjadi bekal untuk memperkuat pengabdian di ruang khidmah masing-masing," ujarnya.
Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan perkenalan dan penyusunan kontrak belajar yang dipimpin oleh Ibu Nyai Roziqoh.
Sebanyak 25 peserta hadir membawa pengalaman dari beragam ruang khidmah, mulai dari perguruan tinggi, pesantren, komunitas, majelis taklim, hingga kalangan orang muda. Mereka berasal dari berbagai wilayah Indonesia, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur maupun luar Jawa.
Keberagaman tersebut menjadi kekuatan tersendiri. Para peserta tidak hanya dipertemukan dalam ruang pelatihan, tetapi juga dalam semangat dan cita-cita bersama untuk memperluas kontribusi ulama perempuan.
Sesi berikutnya mengajak peserta memahami jejak ulama perempuan melalui penggalian sejarah dan kontribusi tokoh-tokoh lokal. Materi disampaikan dengan metode bermain drama atau diorama yang membuat suasana belajar semakin hidup, kreatif, dan menyenangkan.
Peserta memerankan sejumlah tokoh ulama perempuan, di antaranya Tengku Fakinah dari Aceh, Siti Walidah, dan Nenek Muna. Dengan penuh totalitas, mereka menyampaikan pesan dakwah sesuai karakter tokoh yang diperankan, lengkap dengan berbagai aksesori pendukung.
Metode ini menghadirkan pembelajaran sejarah yang tidak sekadar mengingat nama dan peristiwa, tetapi juga menghidupkan kembali nilai perjuangan perempuan dalam dakwah, pendidikan, dan perubahan sosial.
Selanjutnya, peserta mendalami arah gerakan KUPI melalui diskusi kelompok untuk memahami visi, misi, dan komitmen gerakan. Dengan dukungan aksesori berupa beragam tanaman yang disiapkan panitia, proses diskusi berlangsung kreatif dan penuh makna.
Tanaman menjadi simbol bahwa gerakan membutuhkan akar nilai yang kuat, proses merawat yang konsisten, serta kerja bersama agar dapat tumbuh dan memberikan manfaat.
Hari pertama pelatihan berlangsung sejak pukul 13.00 hingga 22.00 WIB. Meski panjang, rangkaian kegiatan terasa dinamis karena memadukan refleksi, sejarah, kreativitas, diskusi, dan penguatan komitmen.
Pelatihan ini menegaskan bahwa kepemimpinan ulama perempuan tidak lahir secara instan. Ia tumbuh melalui pengetahuan, keberanian, keteladanan, jejaring, dan kesediaan untuk terus berkhidmah.
Mengenali sejarah adalah cara merawat ingatan, memahami arah gerakan adalah cara menjaga perjuangan, sedangkan membangun kebersamaan merupakan langkah untuk memastikan nilai-nilai KUPI terus hidup dan memberi kemaslahatan bagi masyarakat. []
(Penulis: Shofi Puji Astiti, M.Pd.I. — KUPI Salatiga)
Editor: Redaksi Media Reputasi



