Lewati ke konten

BNPT dan Pemprov Sumbar Perkuat Benteng Sekolah, Waspadai Radikalisasi Digital Incar Gen Z dan Alpha

· 3 menit baca1.311kali dibaca
Redaksi Literat.id, literat.id
Penulis

LITERAT.ID – Ancaman infiltrasi paham intoleransi dan ekstremisme berbasis kekerasan di satuan pendidikan kian mengkhawatirkan.

Menyikapi hal itu, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menggelar workshop dan pelatihan bertajuk "Kegiatan Penguatan Peran Komite Sekolah, Tenaga Pendidik, dan Tenaga Kependidikan dalam Rangka Kontra Radikalisasi di Satuan Pendidikan" di Hotel Mercure Kota Padang, Kamis (5/11/2026).

Kegiatan ini diawali dengan Deklarasi Komitmen Bersama Penguatan Peran Pendidik, Tenaga Kependidikan, serta Komite Sekolah untuk memastikan lingkungan belajar bebas dari segala bentuk perundungan, intoleransi, dan penyebaran radikalisme.

Radikalisasi Menyasar Ruang Pribadi Anak

Dalam sesi utama pelatihan, Direktur Eksekutif CIVIC FAI Uhamka sekaligus Co-Founder Welfare Institution, Muhammad Abdullah Darraz, menegaskan pentingnya kewaspadaan seluruh aktor di ekosistem sekolah—mulai dari kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, hingga komite sekolah—menghadapi pergeseran pola penyebaran radikalisme yang kini menyasar ruang pribadi anak.

"Kita sedang menghadapi ancaman serius yang menyusup langsung ke ruang pribadi anak-anak kita. Pergeseran target radikalisasi tidak lagi terjadi di ruang publik atau pertemuan terbuka, melainkan menyasar Generasi Z dan Alpha melalui media sosial, gim daring, hingga teknik child grooming digital," ujar Darraz.

Berdasarkan data yang disampaikan, infiltrasi radikalisme digital memanfaatkan kerentanan psikologis pelajar, seperti korban perundungan (bullying), kesepian, hingga konflik keluarga (broken home). Selain itu, fenomena ekstremisme non-tradisional yang mengusung narasi nihilisme serta pendekatan salad bar—menggabungkan berbagai paham ekstrem secara acak—menjadi pemicu aksi kekerasan memetik (memetic violence) dan peniruan (copycat).

Darraz menyoroti bahwa sekolah tingkat SMA/SMK kerap menjadi target utama infiltrasi karena berada pada fase pencarian jati diri siswa yang rentan dipengaruhi narasi instan. Terdapat lima pintu masuk penyebaran radikalisme di sekolah, yakni kebijakan sekolah yang tidak inklusif, materi kurikulum, proses belajar-mengajar (PBM), kegiatan ekstrakurikuler tanpa pengawasan, serta ruang media sosial.

Tiga Pilar Kerangka Kerja Toleransi di Sekolah

Untuk menangkal paparan radikalisme di kalangan generasi muda, diperlukan penguatan ekosistem toleransi terhadap perbedaan di lingkungan sekolah. Aktor internal sekolah bersama komite sekolah memegang peran sentral sebagai penentu arah ekosistem pendidikan. Untuk membentengi sekolah, Darraz mengusulkan kerangka kerja tiga pilar kebinekaan di sekolah:

Pertama, Rekognisi (Pengakuan dan Penghargaan): Menjamin hak belajar agama bagi seluruh siswa sesuai keyakinannya, memfasilitasi sarana ibadah secara adil, dan memastikan akses inklusif bagi penyandang disabilitas.

Kedua, Representasi (Keterlibatan dan Keterwakilan): Menerapkan manajemen sekolah multikultural, kepengurusan OSIS yang inklusif, serta memberikan hak setara bagi seluruh siswa dalam kegiatan kesiswaan.

Ketiga, Redistribusi (Keadilan dan Pemerataan): Menutup ruang gerak kelompok eksklusif atau ekstrakurikuler "bawah tanah", serta memeratakan kesempatan apresiasi dan beasiswa secara transparan.

Lebih lanjut, penyelesaian ancaman radikalisasi digital memerlukan pendekatan Tri-Sentris, yaitu sinergi tiga benteng utama: negara melalui regulasi, orang tua dalam pengawasan gawai di rumah, serta guru dan sekolah sebagai zona aman dan bebas perundungan.

Sekolah juga didorong mengimplementasikan Permendikdasmen RI No 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman melalui deteksi dini perubahan perilaku siswa dan edukasi literasi digital secara terbuka dan kritis.

"Setiap guru, pengelola sekolah, dan siswa adalah benteng terdepan pertahanan NKRI. Tugas bersama kita bukanlah melihat kemajemukan sebagai malapetaka perpecahan, melainkan mengelolanya sebagai sumber harmoni bangsa," tutup Darraz.

Kegiatan yang diikuti ratusan perwakilan komite sekolah dan tenaga pendidik se-Sumatera Barat ini diharapkan menghasilkan Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang konkret untuk diterapkan di masing-masing satuan pendidikan. []

Editor: Redaksi Media Reputasi

0

Berita Terkait

Komentar

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.