Lewati ke konten

Bedah Buku "Melampaui Batas", Soroti Kepemimpinan Perempuan Gubernur Sherly Tjoanda Laos di Maluku Utara

· 3 menit baca2.665kali dibaca
Redaksi Literat.id, literat.id
Penulis

LITERAT.ID - Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Khairun (Unkhair) bekerja sama dengan FISIP Universitas Mulawarman menggelar acara Bedah Buku bertajuk "Melampaui Batas: Sherly Tjoanda Laos & Konstruksi Sosial Kepemimpinan Perempuan di Maluku Utara".

Acara yang berlangsung di Aula NUKU, Lantai 4 Rektorat Kampus II Gambesi ini resmi dibuka oleh Wakil Rektor I Universitas Khairun, Dr. Hasan Hamid, pada 26 Oktober 2026.

Buku yang menjadi sorotan merupakan karya Dr. Nurul Kamaliah Umasangaji, seorang dosen dan peneliti perempuan dari Program Studi Pembangunan Sosial FISIP Universitas Mulawarman, Samarinda.

Acara ini bertujuan untuk mengupas lebih dalam bagaimana konstruksi sosial dan dinamika kepemimpinan perempuan, khususnya yang direfleksikan melalui sosok Sherly Tjoanda Laos di Maluku Utara.

Rangkaian acara diawali dengan tarian penyambutan, pembukaan, serta pembacaan doa. Selanjutnya, para peserta yang hadir menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars Universitas Khairun. Penulis buku, Dr. Nurul Kamaliah Umasangaji, diberikan kesempatan untuk menyampaikan prakata sebelum acara inti dimulai.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pemberian sambutan dari Wakil Dekan 3 FISIP Universitas Mulawarman, dilanjutkan dengan sambutan dari Gubernur Maluku Utara.

Puncak dari rangkaian pembukaan ditandai dengan sambutan sekaligus pembukaan acara secara resmi oleh Wakil Rektor I Unkhair, Dr. Hasan Hamid.

Setelah pembukaan, dilakukan penyerahan buku secara simbolis dari penulis kepada pihak Rektor Universitas Khairun, Dekan FIB, serta para narasumber.

Memasuki sesi inti, diskusi bedah buku berlangsung selama 90 menit, dimulai pukul 10.00 hingga 12.00 WIT. Sesi ini menghadirkan sejumlah narasumber kompeten, di antaranya Dr. Syahrir Ibnu, M.Si. (Sosiolog dan Akademisi Universitas Khairun), dan Dr. Yanuardi Syukur, S.Sos., M.Si. (Dosen Antropologi FIB Universitas Khairun). Bertindak sebagai moderator adalah Dr. Akmal Jaya, S.S., M.A.

Dalam paparannya, Dr. Yanuardi Syukur menyoroti salah satu gagasan paling substantif dari buku tersebut, yakni visi Sherly Tjoanda tentang tata kelola pemerintahan berbasis data individual atau by name, by address.

Menurut Yanuardi, gagasan ini bukan sekadar jargon teknologi, melainkan sebuah perubahan cara berpikir yang mendasar dalam pengambilan kebijakan publik.

"Visi by name, by address yang diusung Sherly Tjoanda adalah lompatan epistemologis. Selama ini kebijakan kita terlalu sering berhenti pada angka agregat. Kita bicara tentang ribuan orang miskin, tetapi kita tidak tahu siapa mereka, di mana mereka tinggal, dan apa yang sesungguhnya mereka butuhkan. Dengan data individual, kebijakan bisa hadir tepat sasaran, bukan sekadar merespons statistik di atas kertas," ujar Yanuardi di hadapan peserta.

Ia menegaskan bahwa visi besar tersebut tidak bisa berjalan sendiri. Menurutnya, diperlukan dukungan dari semua pihak, termasuk pemerintah kabupaten/kota, akademisi, tokoh adat, dan masyarakat sipil.

"Visi sebesar ini tidak mungkin hanya dipikul oleh satu orang gubernur. Kita butuh sinergi lintas sektor dan kolaborasi yang tulus dari semua pemangku kepentingan. Pemerintah provinsi, kabupaten/kota, perguruan tinggi, kesultanan, dan masyarakat harus bergerak bersama. Tanpa kolaborasi, visi by name, by address hanya akan berhenti sebagai dokumen perencanaan," tegas Yanuardi yang juga research fellow pada INTI International University, Malaysia.

Yanuardi juga menekankan pentingnya peran akademisi dalam mendukung implementasi visi tersebut, terutama dalam penyediaan data dan kajian yang akurat.

"Universitas Khairun, sebagai perguruan tinggi yang tumbuh bersama Maluku Utara, harus menjadi mitra strategis sekaligus mitra kolaboratif bagi pemerintah daerah dalam memajukan daerah ini,” imbuhnya lagi.

Pandangan tersebut sejalan dengan gagasan yang ia tuangkan dalam buku yang ia tulis bersama tim, Maluku Utara Menuju Indonesia Emas 2045.

Dalam buku itu, Yanuardi dan tim menyoroti pentingnya menyelaraskan pertumbuhan dengan keadilan, serta perlunya kolaborasi lintas sektor dalam mewujudkan visi pembangunan yang inklusif.

Ia menambahkan bahwa tantangan terbesar ke depan bukan hanya membangun sistem data yang canggih, melainkan memastikan bahwa sistem itu benar-benar digunakan untuk melayani warga, bukan sekadar menjadi proyek pengadaan teknologi.

"Kita butuh sinergi antara teknologi, kebijakan, dan manusia yang menjalankannya," tutupnya.

Turut memberikan tanggapan (pembicara daring) dalam forum tersebut, Prof. Dr. H. Arlin Adam, SKM, M.Si. dari Universitas Mega Buana Palopo, Dr. Tyas Retno Wulan, M.Si. selaku Wakil Dekan 3 FISIP UNSOED Purwokerto sekaligus Ketua APPSI Periode 2026-2030, dan Dr. Muhammad Arifin, M.Hum. selaku Ketua Program Studi S1 Pembangunan Sosial FISIP Universitas Mulawarman.

Acara yang terbuka untuk umum ini mendapat antusiasme tinggi dari para peserta.

Rangkaian kegiatan ditutup pada pukul 12.10 WIT, dengan harapan buku ini dapat menjadi referensi penting dalam kajian sosiologi, budaya, dan kepemimpinan perempuan di Indonesia Timur. []

Editor: Redaksi Media Reputasi

0

Berita Terkait

Komentar

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.