Hudan Irsyadi Raih Anugerah Tokoh Akademisi Budaya di Festival Tara No Ate

LITERAT.ID — Dosen Antropologi Sosial Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, Hudan Irsyadi, menerima penghargaan Anugerah Tokoh Akademisi Budaya dalam malam puncak Festival Tara No Ate di Ternate, Sabtu (24/10/2010).
Penghargaan dari Kesultanan Ternate itu diserahkan langsung oleh Permaisuri Kesultanan Ternate bersama Gubernur Maluku Utara.
Festival Tara No Ate yang berlangsung meriah tersebut dihadiri ribuan peserta dari berbagai penjuru Maluku Utara. Malam puncak menjadi ajang apresiasi bagi para pelaku, pegiat, dan pendukung kebudayaan yang dinilai berjasa dalam pelestarian budaya daerah.
Selain Hudan Irsyadi, sejumlah pihak juga menerima penghargaan dalam kesempatan itu. Anugerah Pelestari Budaya diberikan kepada Pengrajin Tuala Lipa, sementara Tokoh Inspiratif Kebudayaan diraih Dr. Agus Salim Bujang. Anugerah Sanggar Seni diberikan kepada Sanggar Teater Anak Bangsa, dan Anugerah Komunitas Budaya kepada Buku Suba Institute.
Adapun Anugerah Media Partner Terbaik diterima Malut Post, Anugerah UMKM Inspiratif diberikan kepada KTH Buku Manyeku atas produk Minyak Cengkeh Hiri, serta Anugerah Mitra Pendukung Festival kepada Bank Indonesia.
Rekam Jejak Hudan Irsyadi
Bagi Hudan, penghargaan ini bukan tanpa alasan. Ia dikenal sebagai akademisi yang konsisten mengkaji dan mendorong pelestarian budaya lokal Maluku Utara. Dalam berbagai kesempatan, lulusan Master dari Universitas Gadjah Mada tersebut juga aktif menyuarakan pentingnya perlindungan cagar budaya.
Ia pernah menegaskan bahwa Ternate layak disebut sebagai "kota seribu benteng" karena kekayaan peninggalan sejarahnya, dan mengkritisi kebijakan pemerintah kota yang dinilai mengurangi kawasan cagar budaya dalam rancangan peraturan daerah. Menurutnya, perlindungan cagar budaya telah diatur tegas dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 dan tidak seharusnya diabaikan.
Selain itu, Hudan juga terlibat dalam kegiatan pemajuan kebudayaan bersama komunitas lokal. Ia pernah menjadi narasumber dalam workshop yang digelar Buku Suba Institute—lembaga yang turut menerima penghargaan dalam festival ini—dengan tema "Ngofa Gam Nonako Budaya" (Anak negeri mengenal budaya). Keterlibatannya dalam riset dan diskusi kebudayaan menunjukkan komitmennya menjembatani dunia akademik dengan praktik kebudayaan masyarakat.
Para Penerima Penghargaan Lainnya
Anugerah Pelestari Budaya diberikan kepada Pengrajin Tuala Lipa. Tuala Lipa sendiri merupakan penutup kepala tradisional Ternate yang memiliki makna filosofis mendalam, namun semakin jarang dikenal generasi muda. Penghargaan ini diharapkan mendorong upaya pelestariannya.
Sanggar Teater Anak Bangsa, penerima Anugerah Sanggar Seni, dikenal aktif melibatkan anak-anak dari pulau sekitar Ternate melalui program "Teater Masuk Kampung." Pendirinya, Zainudin M. Arie, dikenal kerap mengangkat kisah kehidupan masyarakat pinggiran dalam pementasan.
Sementara itu, Buku Suba Institute yang menerima Anugerah Komunitas Budaya merupakan lembaga riset yang aktif menerbitkan kajian tentang kearifan lokal Ternate, termasuk buku "Mengurai Kearifan Lokal Masyarakat Ternate" yang membahas tradisi seperti Tuala Lipa, Ngogu Adat, dan Fere Kie.
Adapun KTH Buku Manyeku dari Pulau Hiri menerima Anugerah UMKM Inspiratif atas produk Minyak Cengkeh Hiri. Produk ini diolah dari daun cengkih dan menjadi bagian dari upaya masyarakat setempat menghidupkan kembali warisan rempah Maluku Utara.
"Penghargaan ini bukan hanya milik saya pribadi, tetapi milik Universitas Khairun dan seluruh masyarakat Maluku Utara yang terus menjaga warisan budayanya," ujar Hudan yang juga Ketua Asosiasi Tradisi Lisan Maluku Utara (ATL) seusai menerima penghargaan.
Malam puncak Festival Tara No Ate ditutup dengan suasana khidmat dan penuh syukur, menandai komitmen bersama untuk terus merawat budaya sebagai identitas dan kekuatan masyarakat Maluku Utara. []
Editor: Redaksi Media Reputasi




