Lewati ke konten

Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono Diskusi dengan Pakar ANU, Dorong Kebijakan Publik Indonesia Berbasis Bukti Ilmiah dan Data

· 2 menit baca3.001kali dibaca
Redaksi Literat.id, literat.id
Penulis

LITERAT.ID – Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas melakukan kunjungan kerja ke Australian National University (ANU) di Canberra, Australia.

Dalam kesempatan tersebut, ia bersama delegasi MPR RI berdiskusi dengan sejumlah akademisi terkemuka, termasuk Professor Helen Sullivan dan Professor Marcus Mietzner, mengenai tantangan kebijakan publik, kualitas demokrasi, serta pengembangan sumber daya manusia (SDM).

Diskusi tersebut menegaskan pentingnya peran riset dan pendidikan tinggi dalam mendukung perumusan kebijakan publik yang lebih baik.

Ibas menyoroti bahwa pembangunan Indonesia membutuhkan SDM dengan beragam latar belakang keilmuan, mulai dari sains, teknologi, dan kecerdasan buatan (AI), hingga ilmu sosial, humaniora, kesehatan, serta administrasi publik.

Menurut Ibas, tantangan pembangunan tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan satu bidang keahlian. Ia mendorong kolaborasi lintas disiplin agar kebijakan yang dihasilkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat, memperkuat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan, serta menjaga kualitas demokrasi.

Kebijakan Berbasis Bukti dan Aspirasi Publik

Salah satu pokok bahasan utama dalam pertemuan itu adalah pentingnya penelitian akademik dalam proses perumusan kebijakan.

Para akademisi ANU menekankan bahwa kebijakan yang baik semestinya disusun berdasarkan bukti, analisis, dan pemahaman terhadap kondisi masyarakat, bukan sekadar mencari pembenaran atas keputusan yang telah ditetapkan.

Dalam konteks tersebut, Professor Marcus Mietzner yang menjabat sebagai Head of Department of Political and Social Change ANU menegaskan pentingnya penelitian opini publik untuk memahami kebutuhan masyarakat. “Polling is extremely important to understand what the public actually wants in terms of policy,” ujar Marcus.

Sementara itu, Professor Helen Sullivan selaku Dean of the ANU College of Asia and the Pacific menyoroti penguatan kurikulum pendidikan di era kecerdasan buatan. Ia menilai pemanfaatan AI harus diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis agar lulusan mampu menyelesaikan persoalan nyata di lapangan.

“Yang kita ketahui adalah bahwa seluruh lulusan kita perlu menjadi pemikir kritis yang mampu bekerja di dunia nyata,” kata Helen.

Bagi Ibas, kebijakan yang baik harus berlandaskan bukti dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Karena itu, ia berharap kolaborasi antara akademisi dan pembuat kebijakan terus diperkuat agar hasil penelitian dapat menjadi landasan dalam merumuskan kebijakan yang tepat dan bermanfaat.

Harapan bagi Generasi Muda Indonesia

Lebih lanjut, Ibas berharap kerja sama dengan institusi pendidikan seperti ANU dapat membuka lebih banyak kesempatan bagi putra-putri Indonesia untuk mengembangkan potensi, memperluas wawasan global, dan mempersiapkan diri menjadi generasi unggul yang berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Diskusi di ANU ini merupakan bagian dari rangkaian kunjungan kerja delegasi MPR RI ke Australia.

Sebelumnya, Ibas juga melakukan pertemuan bilateral dengan sejumlah pejabat Australia di Parliament House, membahas penguatan diplomasi parlemen dan kerja sama strategis di berbagai bidang. []

Editor: Redaksi Media Reputasi

0

Berita Terkait

Komentar

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.