Lewati ke konten

Apel Hari Santri 2026, Pengasuh Pesantren Mahasina KH Abu Bakar Rahziz Tegaskan Santri Harus Mampu Padukan Nilai Agama dan Kecakapan Digital

· 2 menit baca1.820kali dibaca
Redaksi Literat.id, literat.id
Penulis

LITERAT.ID — Pengasuh Pondok Pesantren Mahasina Darul Quran wal Hadits, KH Abu Bakar Rahziz, menegaskan bahwa tantangan pesantren pada era digital semakin kompleks. Selain mendidik santri dalam bidang keagamaan dan akhlak, pesantren juga perlu membekali mereka dengan kemampuan menghadapi arus informasi, opini publik, dan algoritma media digital.

Menurutnya, informasi mengenai suatu peristiwa di lingkungan pesantren dapat direkam, difoto, diberi narasi, kemudian disebarluaskan ke berbagai wilayah hanya dalam hitungan detik.

Karena itu, santri perlu memiliki kecakapan digital agar mampu memahami informasi secara kritis serta membedakan fakta, hoaks, dan informasi yang menyesatkan.

"Resolusi Jihad Santri hari ini menuntut kita berani melawan kebodohan, melawan framing, melawan hoaks, judol, judi online, fitnah, pornografi, kecanduan game, dan segala hal yang merusak masa depan santri dan generasi Indonesia," ungkapnya dalam Apel Hari Santri 2026 di Pondok Pesantren Mahasina Darul Quran wal Hadits, Kota Bekasi, Jawa Barat, Kamis (22/10/2026).

Padukan Nilai Agama dan Kesiapan Teknologi

KH Abu Bakar menegaskan, pendidikan pesantren harus mampu memadukan penguatan nilai-nilai agama dengan kesiapan menghadapi perkembangan teknologi.

Santri perlu memahami teknologi dan memanfaatkannya untuk hal-hal produktif, tanpa membiarkan diri terjerumus dalam perilaku yang merugikan.

Ia juga mendorong pelaksanaan Resolusi Jihad Digital Santri agar santri menjadi pelopor literasi digital, penjaga akhlak, penyebar kebaikan, serta pembela martabat kemanusiaan.

Dengan bekal pendidikan agama dan pembinaan karakter, santri diharapkan mampu mengambil manfaat dari kemajuan teknologi sekaligus menghindari dampak negatifnya.

"Santri harus menjadi pencipta manfaat, bukan penyebar mudarat. Santri menjadi pelopor perubahan, bukan korban perkembangan zaman," tandasnya.

Harapan agar Pesantren Terus Berinovasi

KH Abu Bakar berharap pesantren terus mempertahankan tradisi pendidikan dan pengasuhan yang menjadi kekuatannya, sekaligus melakukan inovasi agar tetap relevan dengan kebutuhan generasi muda.

Dengan demikian, pesantren dapat berperan dalam menyiapkan generasi yang berakhlak, mandiri, cakap menghadapi teknologi, dan mampu berkontribusi positif bagi masyarakat.

Sebelumnya, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi mengatakan, sekitar 88 juta anak di Indonesia atau sepertiga dari total penduduk menghadapi tantangan di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Karena itu, perlindungan anak membutuhkan keterlibatan orang tua, pengasuh, guru, serta ustaz dan ustazah.

"Pondok pesantren adalah tempat yang paling tepat untuk mengasah anak-anak kita," katanya dalam kesempatan yang sama. []

Sumber : pesantrenmahasina.com

Editor: Redaksi Media Reputasi

0

Berita Terkait

Komentar

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.