UICI Paparkan Hasil Riset Smart City di Forum Kemendagri, Banjarmasin dan Sragen Jadi Pilot Project

LITERAT.ID – Tim akademisi Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) memaparkan hasil pemetaan dan riset inovasi tematik Smart City dalam forum diseminasi yang digelar Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) di Bogor, Jawa Barat.
Kajian strategis ini menjadi bagian dari upaya memperkuat implementasi kota cerdas di daerah melalui pendekatan yang lebih presisi dan kontekstual.
Forum yang berlangsung selama dua hari, 23–24 Oktober 2026, di Padjajaran Suite Resort & Convention Hotel tersebut diselenggarakan oleh Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) bersama Direktorat Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan (Ditjen Bina Adwil) Kemendagri.
Selain perwakilan UICI yang terdiri dari Rektor, Wakil Rektor, dan para dosen, kegiatan ini juga dihadiri oleh perwakilan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Bappenas, serta jajaran pemerintah daerah rujukan dan daerah sasaran.
Dalam kajian tersebut, UICI tidak bekerja sendirian. Tim akademisi dilibatkan untuk merumuskan solusi berbasis inovasi melalui metode matching analysis terhadap praktik baik yang telah berjalan di Kabupaten Banyuwangi dan Kota Bandung.
Hasilnya, dua daerah ditetapkan sebagai sasaran pengembangan, yakni Kota Banjarmasin dan Kabupaten Sragen.
Pelaksana Tugas Kepala BSKDN, Raden Gani Muhamad, menegaskan bahwa kajian inovasi tematik ini bukan sekadar latihan akademik.
Menurutnya, diperlukan analisis mendalam untuk menghasilkan solusi yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan spesifik perkotaan.
“Kajian inovasi tematik ini merupakan analisis mendalam atau studi strategis yang berfokus pada pengembangan solusi inovatif berbasis teknologi dan tata kelola pada tema atau dimensi spesifik perkotaan,” ujar Gani dalam arahannya, dikutip dari keterangan resmi.
Bukan Sekadar Aplikasi
Gani menekankan bahwa hakikat inovasi tidak boleh direduksi menjadi sekadar pembuatan aplikasi atau peluncuran produk teknologi modern. Inovasi, kata dia, merupakan proses kreatif yang harus menghasilkan nilai tambah dan menjawab persoalan mendasar masyarakat.
Pandangan tersebut sejalan dengan arah kebijakan nasional dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029. Inovasi daerah diarahkan untuk memberi jawaban atas masalah kemiskinan, penyerapan tenaga kerja, layanan kesehatan dan pendidikan, hingga kemandirian fiskal.
Data yang dipaparkan dalam forum menunjukkan mengapa pendekatan presisi itu penting. Kabupaten Sragen dan Kota Banjarmasin sama-sama mencatat pertumbuhan ekonomi di atas 5,6 persen pada 2025.
Namun, keduanya menghadapi tantangan yang berbeda: Sragen masih bergulat dengan persentase penduduk miskin sebesar 11,22 persen, sementara Banjarmasin memiliki Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 6,49 persen.
Oleh karena itu, Gani mengingatkan agar praktik baik dari daerah rujukan tidak ditiru mentah-mentah.
“Pembelajaran inovasi dari daerah rujukan ini diharapkan bisa direplikasi secara cermat agar sesuai dengan karakteristik, kemampuan fiskal, serta kebutuhan riil masyarakat di Sragen dan Banjarmasin,” tuturnya.
Dari Banyuwangi hingga Bandung
Dalam sesi pemaparan, sejumlah inovasi dari daerah rujukan dibedah untuk melihat relevansinya. Kabupaten Banyuwangi memaparkan program Smartkampung dan Banyuwangi One.id yang dinilai berhasil menjangkau warga hingga tingkat desa.
Sementara itu, Kota Bandung memperkenalkan Bandung Super Maps (BSM) Pro, sebuah platform berbasis geospasial yang mampu mengakomodasi kebutuhan warga di tingkat akar.
Dari sisi regulator, Direktur Layanan Aplikasi Informatika Pemerintahan (LAIP) Kemkomdigi, Aris Kurniawan, menyampaikan bahwa pengembangan pelayanan publik berbasis kota cerdas kini diarahkan pada pendekatan Pemerintah Digital (PEMDI) sebagai pengembangan dari SPBE. Ke depan, proyek percontohan teknologi digital di kota cerdas akan terus diperluas dengan mempertimbangkan karakteristik wilayah masing-masing.
Melalui forum ini, UICI berupaya menghadirkan formulasi penguatan Smart City yang tidak hanya bersifat teknokratis, tetapi juga adaptif terhadap konteks lokal.
Hasil riset tersebut diharapkan dapat menjadi rujukan nasional bagi pengembangan daerah lain di Indonesia, sekaligus memastikan bahwa investasi teknologi dalam program Smart City benar-benar berdampak pada kesejahteraan masyarakat. []
Editor: Redaksi Media Reputasi




